Evakuasi Perdana Ambulans Laut BAHIM Soroti Sistem Rujukan Kesehatan di Ternate
Ternatehariini – Evakuasi perdana pasien menggunakan ambulans laut Andalan BAHIM dari Pulau Moti menyoroti kondisi sistem rujukan layanan kesehatan di wilayah kepulauan Kota Ternate.
Ambulans laut yang diperuntukkan bagi tiga kecamatan kepulauan, yakni Batang Dua, Hiri, dan Moti (BAHIM), diketahui telah tersedia sejak Oktober 2025, namun baru dioperasikan dalam evakuasi pasien darurat baru-baru ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, Fathiyah Suma, menyatakan layanan tersebut dirancang untuk memberikan akses yang aman dan merata bagi masyarakat kepulauan. Namun, sejumlah pihak menilai implementasinya masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait keterbatasan armada.
Muis Ade, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate, menilai penggunaan satu unit ambulans laut untuk melayani tiga wilayah kepulauan belum memadai secara geografis maupun kebutuhan medis.
“Dalam kondisi darurat, waktu menjadi faktor krusial. Keterbatasan armada berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan,” ujarnya.
Kasus evakuasi pasien anak berusia 6 tahun asal Kelurahan Moti Kota menjadi perhatian. Pasien tersebut dirujuk dalam kondisi darurat dan tiba di Unit Gawat Darurat RSUD Chasan Boesoirie Ternate pada pukul 17.35 WIT dengan gejala sesak napas dan pucat akibat dugaan keracunan obat MDT.
Sebelumnya, pasien telah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Moti sebelum dirujuk menggunakan ambulans laut untuk memperoleh penanganan lanjutan.
Selain persoalan rujukan, kasus ini juga memunculkan perhatian terhadap pengelolaan limbah medis di masyarakat. Dugaan konsumsi limbah medis oleh anak-anak menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih ketat, meskipun sumber limbah tidak berasal dari fasilitas kesehatan setempat.
Pengamat menilai pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan layanan kesehatan di wilayah kepulauan, termasuk mempertimbangkan penambahan armada ambulans laut.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah medis, seperti obat rusak atau kedaluwarsa, dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Adanaya kondisi geografis wilayah kepulauan yang terpencar, ketersediaan sarana transportasi medis yang memadai menjadi faktor penting dalam menjamin akses layanan kesehatan yang cepat dan tepat bagi masyarakat.






