AJI Ternate Soroti Ancaman Pers di May Day
Ternatehariini – Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang bertepatan dengan Hari Pers Sedunia dimanfaatkan jurnalis, buruh, mahasiswa, dan masyarakat sipil di Ternate untuk menyuarakan tuntutan perlindungan pekerja serta kebebasan pers.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen Ternate, Yunita Kaunar, menegaskan bahwa kedua momentum tersebut menjadi pengingat penting bahwa perjuangan buruh dan jurnalis tidak terpisahkan dalam menjaga demokrasi.
“Tidak ada demokrasi tanpa kebebasan pers. Dalam momentum Hari Buruh dan Hari Pers Sedunia ini, kami mengajak semua pihak untuk bersatu melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk jurnalis,” ujarnya.
Aksi tersebut melibatkan sejumlah organisasi, di antaranya AJI Ternate, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Maluku Utara, Society of Indonesian Environmental Journalists Maluku Utara, pers mahasiswa seperti Aspirasi dan Mantra, Peliputan Kota, Peliputan Hukum Kriminal, serta Asosiasi Media Siber Indonesia.
Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi menilai bahwa Hari Buruh bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Jurnalis sebagai bagian dari kelas pekerja juga menghadapi berbagai persoalan, mulai dari upah yang tidak layak, status kerja yang tidak pasti, hingga intervensi terhadap kerja jurnalistik.
AJI Ternate menyampaikan tujuh tuntutan utama:
- Menghentikan praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak serta memastikan perlindungan hukum bagi pekerja.
- Mewujudkan upah layak dan jaminan sosial yang merata.
- Menghentikan kekerasan dan kriminalisasi terhadap jurnalis serta aktivis.
- Menjamin kebebasan pers dan hak atas informasi tanpa intervensi.
- Menolak eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
- Mendorong kebijakan publik yang transparan, berpihak pada rakyat, dan berkeadilan.
- Menghentikan praktik swasensor yang dinilai mengancam independensi per
Yunita menilai kondisi di lapangan masih jauh dari ideal, sehingga diperlukan penguatan solidaritas lintas sektor.
“Solidaritas adalah kekuatan kita. Perjuangan ini tidak berhenti sampai di sini. Suara-suara ini akan terus disatukan hingga tercapai perubahan yang lebih adil,” pungkasnya.




