Tim Ekspedisi Patriot Kenalkan Pertanian Modern di Trans Waleh
Ternatehariini – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) mendorong pengembangan sektor pertanian di kawasan Trans Waleh, Maluku Utara, melalui pemanfaatan teknologi sederhana yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan melalui praktik pembuatan pupuk hayati dan pengenalan sensor pengukur kondisi tanah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan masyarakat dan petani, untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam mengelola lahan secara lebih efektif dan berbasis data.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Najmu Tsaqib Akhda, mengatakan penerapan teknologi di sektor pertanian tidak harus selalu menggunakan peralatan yang kompleks. Teknologi sederhana yang mudah digunakan petani dapat menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan pola pengelolaan pertanian di tingkat masyarakat.
“Pemanfaatan teknologi di sektor pertanian diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali kondisi lahannya secara lebih baik. Pemanfaatan pupuk hayati yang higienis juga diharapkan dapat mendukung pengelolaan lahan dan tanaman,” ujar Najmu, pada Rabu, 9 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, TEP memperkenalkan praktik pembuatan pupuk hayati dengan menggunakan starter atau biang berupa Bacillus amyloliquefaciens. Bahan pendukung yang digunakan antara lain air, larutan gula, ragi, serta singkong yang telah dikeringkan sebagai sumber karbohidrat untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme.
Pupuk hayati tersebut diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung aktivitas mikroorganisme di dalam tanah sekaligus memanfaatkan bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh masyarakat setempat.
Selain praktik pembuatan pupuk hayati, peserta juga diperkenalkan dengan sensor pengukur tanah 8-in-1. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk membantu memperoleh informasi mengenai kondisi tanah, termasuk kelembapan dan sejumlah parameter lainnya, tergantung kemampuan sensor yang digunakan.
Pengenalan sensor tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan konsep pertanian presisi (precision agriculture) kepada masyarakat Trans Waleh. Melalui data mengenai kondisi tanah, petani diharapkan dapat memiliki informasi tambahan dalam menentukan langkah pengelolaan lahan dan kebutuhan tanaman.
Pendekatan berbasis data dinilai penting karena karakteristik setiap lahan tidak selalu sama. Kondisi kelembapan dan parameter tanah lainnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlakuan terhadap lahan sehingga penggunaan sumber daya dapat dilakukan secara lebih tepat.
TEP menilai inovasi pertanian perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Karena itu, teknologi yang diperkenalkan dalam pendampingan tersebut diarahkan pada perangkat dan metode yang relatif sederhana agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh petani.
Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembangunan kapasitas masyarakat. Petani didorong untuk memahami kondisi lahannya, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, serta mulai mengenal penggunaan data sebagai bagian dari pengambilan keputusan dalam aktivitas pertanian.
Bagi masyarakat Trans Waleh, pengenalan pupuk hayati dan sensor tanah diharapkan dapat membuka peluang penerapan pola pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan pengelolaan lahan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Tim Ekspedisi Patriot berharap pendampingan serupa dapat terus dikembangkan melalui praktik langsung, pengamatan kondisi lahan, serta evaluasi terhadap hasil penerapan teknologi. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam aktivitas pertanian masyarakat.
Melalui kolaborasi antara pengetahuan lokal, pendampingan, dan teknologi, kawasan Trans Waleh diharapkan mampu mengembangkan potensi pertaniannya sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan pertanian di masa mendatang.




