Sengketa Lahan di Halmahera Timur, Wagub Malut Belum Terima Laporan Kasus PT ARA
Ternatehariini – Polemik antara perusahaan tambang PT Alam Raya Abadi (ARA) dan sejumlah warga Desa Subaim, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, terus bergulir. Tuntutan kompensasi lahan dari warga hingga kini belum diselesaikan oleh perusahaan.
Akibatnya, aksi pemalangan jalan hauling masih terus dilakukan oleh sejumlah warga Desa Subaim. Aksi tersebut dipimpin Imam Masjid Darul Fatah, Halib Naegunung, bersama beberapa warga lainnya dan telah berlangsung sekitar satu bulan.
Pemalangan itu berdampak pada aktivitas PT ARA, karena kegiatan pengangkutan (hauling) kerap terhenti akibat akses jalan yang diblokir oleh pemilik lahan.
Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, mengaku belum menerima laporan resmi, baik dari Dinas Pertambangan Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur.
“Kami berharap ada informasi resmi yang disampaikan ke pemerintah provinsi, sehingga kami bisa mengetahui secara jelas permasalahannya,” kata Sarbin saat ditemui di Wasima Kita, Desa Bumi Restu, pada Rabu malam 5 Maret 2026.
Sarbin menambahkan, sejauh ini persoalan pertambangan di Halmahera Timur yang sempat dibahas di tingkat Pemerintah Provinsi Maluku Utara baru menyangkut perusahaan tambang PT Sambaki Tambang Sentosa (STS).
“Untuk perusahaan tambang di Halmahera Timur, yang sempat dibicarakan di meja saya baru PT STS. Selain itu belum ada. Kami berharap informasi terkait persoalan ini bisa disampaikan agar dapat ditindaklanjuti,” ujarnya.
Sementara itu, Humas PT Alam Raya Abadi, Kubais Kababa, mengatakan pihak perusahaan tetap menjalankan aktivitas hauling meskipun terjadi pemalangan jalan oleh sekelompok warga.
Menurutnya, keputusan tersebut merupakan instruksi langsung dari manajemen pusat. “Instruksi dari manajemen pusat jelas. Jika kami tidak melakukan hauling, itu seolah-olah kami membenarkan tindakan pemalangan yang dilakukan oleh kelompok tersebut,” kata Kubais.
Ia menambahkan, meskipun tetap beroperasi, perusahaan mengedepankan pendekatan persuasif guna menghindari potensi konflik di lapangan.
“Apapun yang terjadi di jalan hauling, kami tetap menjalankan kegiatan dengan mengedepankan pendekatan persuasif untuk menghindari tindakan fisik,” pungkasnya.






