Kepulangan Burhan Abdurahman, Loyalitas Itu Masih Hidup
Oleh: Rosydan Arby
Ternatehariini – Ada pemimpin yang dikenang karena proyek-proyeknya. Ada pula yang diingat karena jejaring loyalitas yang dibangunnya melalui orang-orang yang pernah bekerja di bawah kepemimpinannya. Bagi Ternate, almarhum Burhan Abdurahman tampaknya berada di antara keduanya.
Ia bukan hanya dikenang sebagai wali kota dua periode, tetapi juga sebagai figur yang melahirkan generasi birokrat yang hingga kini masih menganggapnya sebagai “orang tua birokrasi” setelah Syamsir Andili.
Wafatnya Burhan Abdurahman pada 2021 di Gowa, Makassar, sempat terasa seperti penutup satu fase politik lokal Ternate. Namun hampir lima tahun kemudian, kepulangan jasadnya ke Ternate justru membangkitkan kembali ingatan publik tentang bagaimana relasi kuasa dan kesetiaan bekerja dalam politik daerah.
Di balik prosesi pemulangan itu, publik melihat sesuatu yang lebih dari sekadar urusan administratif pemindahan makam. Ada penghormatan, ada bakti, dan ada jejak hubungan antara pemimpin dan anak buah yang ternyata belum selesai bahkan setelah kematian.
Saya termasuk orang yang pernah mengkritik sejumlah kebijakan Pemerintah Kota Ternate saat ia menjabat. Ketika Gedung Gamalama dibongkar dan kemudian direvitalisasi menjadi Plaza Gamalama, saya berada di antara mereka yang menolak langkah tersebut. Bagi saya, kawasan itu lebih layak dipertahankan sebagai bagian dari identitas kota lama Ternate ketimbang diubah menjadi wajah urban baru yang seragam.
Sejumlah kebijakan tata kota lainnya juga saya anggap belum cukup visioner untuk memperkuat arah pembangunan Ternate dalam 20 hingga 30 tahun mendatang.
Namun menariknya, kritik-kritik itu tidak pernah dibalas dengan kemarahan. Almarhum justru menunjukkan watak politik yang jarang ditemukan dalam birokrasi lokal: tenang menghadapi kritik dan terbuka untuk berdiskusi.
Saya masih mengingat ketika pertama kali diajak Rizal Marsaoly saat itu menjabat Kepala Dinas Perkim Kota Ternate–bertemu langsung dengan Burhan Abdurahman bersama sejumlah arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Maluku Utara di kediamannya di Kelurahan Jati. Dalam pertemuan itu, ia tidak tampil sebagai penguasa yang antikritik, melainkan sebagai pemimpin yang ingin mendengar.
Dari situ saya memahami satu hal: kekuatan terbesar Burhan Abdurahman mungkin bukan semata pembangunan fisik, melainkan kemampuannya membentuk kader birokrasi. Ia membesarkan orang-orang di sekitarnya dan memberi ruang tumbuh bagi generasi pejabat yang kini menjadi aktor penting dalam pemerintahan Kota Ternate.
Nama-nama seperti Rizal Marsaoly, Budi Risval, Thamrin Marsaoly, Nuryadin Rachman, hingga Tauhid Soleman,Wali Kota Ternate saat ini bukan muncul dari ruang kosong. Mereka lahir dari ekosistem politik dan birokrasi yang dibentuk pada masa kepemimpinannya.
Di titik inilah kepulangan jasad Burhan Abdurahman menjadi menarik dibaca secara sosiologis. Sebab yang memulangkannya bukan keluarga besar partai atau elite nasional, melainkan orang-orang yang dahulu bekerja di bawah kepemimpinannya.
Ada Tauhid Soleman sebagai Wali Kota Ternate, Rizal Marsaoly sebagai Sekretaris Daerah, Nuryadin Rachman selaku Kepala Kesbangpol, serta sejumlah birokrat lain yang datang langsung ke Gowa, Makassar.
Mungkin publik tidak pernah benar-benar tahu siapa penggagas pemulangan itu. Namun publik melihat satu hal yang jelas: yang bergerak adalah mantan anak buahnya yang tetap setia hingga akhir.
Dalam politik lokal Indonesia, loyalitas biasanya berumur pendek. Pilkada sering memecah hubungan lama. Perbedaan pilihan politik kerap membuat bekas bawahan berubah menjadi lawan. Namun dalam kasus Burhan Abdurahman, hubungan itu tampaknya melampaui kontestasi elektoral. Bahkan setelah Pilkada 2020 menghadirkan perbedaan posisi politik di antara mereka, penghormatan terhadap sosok “Haji Bur” tetap bertahan.
Mungkin di situlah ukuran sebenarnya seorang pemimpin daerah: bukan hanya seberapa banyak proyek yang ia tinggalkan, tetapi seberapa lama kesetiaan orang-orang di sekitarnya mampu bertahan setelah ia tak lagi memiliki kekuasaan.
Sebab kekuasaan bisa selesai ketika jabatan berakhir, tetapi penghormatan hanya bertahan ketika seorang pemimpin berhasil membangun hubungan manusiawi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Pada 12 Mei 2026, jasad Burhan Abdurahman kembali ke Ternate. Kepulangan itu bukan sekadar perjalanan seorang mantan wali kota menuju tanah yang pernah ia pimpin. Ia juga menjadi simbol bahwa sebagian anak buahnya masih menganggap dirinya sebagai guru birokrasi yang patut dihormati hingga akhir.
Di tengah politik yang semakin pragmatis hari ini, kesetiaan semacam itu menjadi sesuatu yang semakin langka. Saya turut berbahagia karena jasadnya akhirnya kembali ke Ternate. Dari peristiwa itu, saya belajar tentang arti kesetiaan seorang anak buah kepada mantan pemimpinnya.
Al-Fatihah untuk almarhum.



