Panggung Kehormatan
Oleh: Abubakar Abdullah
Lobi utama Kantor Kementerian Pendidikan pada malam 25 Mei 2026 disulap menjadi panggung kehormatan yang penuh cahaya. Sorot lampu menghiasi setiap sudut ruangan, sementara backdrop besar bertuliskan “Malam Tasyakuran Hari Pendidikan Nasional 2026” berdiri megah di tengah acara.
Malam itu rupanya bukan sekadar seremoni penutupan rangkaian Hardiknas, tetapi juga menjadi momentum pemberian apresiasi atas karya, prestasi, dan dedikasi insan pendidikan dari seluruh Indonesia.
Sejumlah tamu penting hadir, mulai dari Staf Khusus Presiden, Menteri Pendidikan, para Wakil Menteri, pejabat eselon I dan II kementerian, gubernur, bupati, dan wali kota penerima penghargaan, hingga kepala dinas dan guru-guru berprestasi dari berbagai daerah.
Sejujurnya, saya sempat penasaran. Undangan yang saya terima hanya bertuliskan “Apresiasi PIP”. Karena itu, saya menghubungi Pak Mukti, penanggung jawab Program Indonesia Pintar (PIP) di kementerian.
Dari beliau saya mengetahui bahwa kementerian selama ini melakukan pemantauan dan evaluasi pengelolaan PIP secara objektif dengan merujuk pada tiga komponen utama.
Pertama, pemanfaatan sistem sebesar 20 persen, yakni tingkat penggunaan dan login akun dinas maupun satuan pendidikan pada aplikasi Sipintar.
Kedua, pengelolaan sebesar 60 persen, yang meliputi kualitas data PIP yang lengkap, valid, dan logis; aktivasi rekening penerima; pengunduhan data KIP Digital oleh satuan pendidikan; hingga kecepatan pelaksanaan aktivasi rekening PIP.
Ketiga, pelaporan dan konfirmasi sebesar 20 persen, mencakup konfirmasi status rekening PIP oleh satuan pendidikan di Sipintar, serta keterisian data survei kendala rekening yang belum diaktivasi.
Penjelasan Pak Mukti malam itu menghilangkan seluruh keraguan saya.
Namun lebih dari itu, penjelasan tersebut justru membawa ingatan saya kepada tiga sosok pegawai luar biasa: Ana, Lela, dan Purnomo.
Saya bahkan sempat meneteskan air mata ketika mengingat perjalanan satu tahun terakhir. Ketiga sahabat ini kerap menerima amarah, teguran, bahkan omelan dalam proses kerja. Namun mereka tidak pernah bergeming. Mereka memilih diam, bekerja, memperbaiki, dan menyelesaikan semuanya dengan penuh tanggung jawab hingga akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.
Begitu pula para kepala sekolah pengelola PIP yang merasakan langsung beratnya proses tersebut. Karena itu, penghargaan ini sesungguhnya bukan untuk saya. Penghargaan ini adalah milik tiga sahabat terbaik di kantor dinas, serta milik ibu dan bapak kepala sekolah yang selama ini bekerja dalam senyap demi memastikan hak-hak pendidikan anak-anak tetap terlayani dengan baik.
Pada akhirnya, setiap penghargaan selalu memiliki panggung kehormatannya sendiri. Dan malam tadi saya menyaksikan bahwa panggung itu dibangun dari kerja keras, kesabaran, pengabdian, dan ketulusan banyak orang.
Mari tetap fokus bekerja, karena semesta pada akhirnya akan memberi rasa hormatnya sendiri




