Waspada! Maluku Utara Masuk Puncak Kemarau
Ternatehariini – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian wilayah Maluku Utara mulai memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi memicu berkurangnya curah hujan, meningkatnya suhu udara, hingga risiko kekeringan di sejumlah daerah.
“Berdasarkan pembaruan data BMKG per dasarian III Juli 2026, sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau,” tulis BMKG di Instagram, Senin 3 Agustus 2026.
Dari total 699 ZOM, hanya sekitar 10 persen yang masih berada pada musim hujan, sementara 16,2 persen lainnya merupakan wilayah dengan satu musim.
BMKG menyebut puncak musim kemarau pada Agustus diperkirakan meliputi sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia, termasuk sebagian wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan masih akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Bahkan, intensitasnya berpotensi meningkat hingga melampaui kategori kuat.
Selain menyebabkan curah hujan semakin berkurang, El Nino juga diperkirakan membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. BMKG mencatat sekitar 437 ZOM atau 48,77 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang.
Bagi Maluku Utara, kondisi ini perlu diantisipasi karena berpotensi berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.
BMKG memperkirakan peningkatan curah hujan dengan kategori tinggi baru akan terjadi secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.
Sementara itu, di sejumlah wilayah Indonesia telah tercatat hari tanpa hujan dengan durasi yang bervariasi, mulai dari kategori sangat pendek hingga panjang. Rekor terpanjang mencapai 80 hari tanpa hujan terjadi di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.





