Dari 300 Lebih Jadi 100 Kasus, Stunting di Buli Maba Terus Menurun
Ternatehariini – Upaya penanganan stunting di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Maluku Utara, menunjukkan hasil positif. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak melakukan intervensi lintas sektor untuk menekan angka stunting, termasuk melalui dukungan sektor swasta.
Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Timur, Abdullah Yakub, mengatakan angka stunting di wilayah Buli, Kecamatan Maba, sebelumnya tercatat lebih dari 300 kasus. Namun, angka tersebut kini menurun menjadi sekitar 100 kasus.
“Alhamdulillah, untuk Buli, Kecamatan Maba, angka stunting sebelumnya 300 sekian dan sekarang turun di angka 100 sekian. Padahal ini daerah pertambangan, tetapi angka stunting masih tinggi. Ternyata persoalannya adalah daya beli masyarakat dan kecukupan gizi,” ujar Abdullah, Jumat 14 Agustus 2026.
Menurutnya, penurunan angka stunting tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita yang turut melakukan sosialisasi serta memberikan bantuan kebutuhan pangan kepada masyarakat.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) memberikan insentif kepada ibu hamil. Bantuan tersebut ditujukan untuk memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup selama masa kehamilan.
“Pemerintah daerah melalui Dinas KB memberikan insentif kepada ibu hamil agar selama kehamilan mendapatkan suplai gizi yang cukup, sehingga ibu dan bayinya sehat,” katanya.
Kolaborasi juga dilakukan Pemkab Halmahera Timur bersama PT Antam melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) serta Gerakan Gizi Baik Cegah Risiko Stunting (Antam G-Best).
Abdullah menjelaskan, melalui program Antam G-Best, masyarakat khususnya ibu-ibu didorong memanfaatkan bahan pangan lokal seperti ubi, singkong, dan batata untuk diolah menjadi makanan ringan yang bergizi.
Program tersebut dilaksanakan dengan melibatkan Asosiasi Perkumpulan Ahli Gizi Maluku Utara untuk memberikan pendampingan terkait pengolahan pangan dan pemenuhan kebutuhan gizi.
“Antam G-Best melibatkan ibu-ibu dalam menanam ubi, singkong dan batata, kemudian diolah menjadi makanan lokal ringan yang bergizi bekerja sama dengan Asosiasi Perkumpulan Ahli Gizi Maluku Utara,” jelasnya.
Abdullah menambahkan, intervensi penanganan stunting dilakukan sejak masa kehamilan. Sementara bagi anak yang telah lahir, pemerintah memberikan makanan tambahan bergizi untuk mencegah terjadinya stunting.
“Yang kita intervensi melalui ibu hamil adalah bantuan insentif dari Dinas KB. Sementara yang sudah lahir akan diberikan makanan tambahan agar terhindar dari stunting,” pungkas Abdullah. (Zhar/Red)





