SMPN 6 Ternate Diproyeksikan Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah
Ternatehariini – SMP Negeri 6 Kota Ternate diproyeksikan menjadi pilot project atau sekolah percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis sekolah di Kota Ternate.
Rencana tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, saat mengunjungi SMPN 6 dalam kegiatan Rabu Menyapa, Rabu 16 September 2026.
Rizal mengatakan, SMPN 6 saat ini tengah bersaing di tingkat Provinsi Maluku Utara sebagai calon Sekolah Adiwiyata Nasional. Jika berhasil lolos ke tingkat nasional, sekolah tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan, sebagai model pengelolaan lingkungan di lingkungan pendidikan.
“Kalau sudah lolos level nasional, maka sangat luar biasa. Target saya, sekolah ini akan menjadi pilot project pengelolaan sampah pada level sekolah di Kota Ternate,” kata Rizal.
Menurutnya, upaya membangun kebiasaan mengelola sampah harus dimulai sejak lingkungan sekolah. Pendidikan tentang lingkungan tidak hanya berkaitan dengan teori, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari para siswa.
Salah satu kebiasaan yang telah diterapkan di SMPN 6 adalah penggunaan tumbler oleh siswa. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Rizal mendorong Dinas Pendidikan Kota Ternate memberikan dukungan terhadap kebiasaan tersebut, termasuk melalui pengadaan tumbler bagi siswa.
“Sekolah ini ada satu kebiasaan agar setiap siswa harus menggunakan tumbler, dengan tujuan untuk kampanye menolak plastik. Sehingga Dinas Pendidikan harus suport, paling tidak dengan pengadaan tumbler yang harganya sekitar Rp30 ribu,” ujarnya.
Ia berharap, kebiasaan yang dibangun di sekolah dapat terbawa ke lingkungan keluarga. Dengan begitu, siswa tidak hanya menerapkan pengelolaan sampah ketika berada di sekolah, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Apabila di sekolah ini siswanya dapat mengelola sampah dengan baik, maka ketika balik di rumah, kebiasaan ini sudah tertanam. Karena ini juga mendukung program Pemerintah Kota terkait soal sampah,” katanya.
Selain pengelolaan sampah, Rizal mengapresiasi kreativitas siswa SMPN 6 dalam memanfaatkan material yang ada di sekitar. Salah satunya pemanfaatan sabut kelapa untuk dijadikan peta.
Menurutnya, kreativitas tersebut dapat dikembangkan lebih jauh dengan melibatkan siswa dalam kegiatan penelitian dan inovasi. Ia menyebut Bappelitbangda memiliki agenda penelitian yang dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk ikut terlibat.
“Sekolah ini juga memanfaatkan sabut kelapa untuk dijadikan peta. Ini sangat bagus. Di Bappelitbangda ada destinasi penelitian, sehingga mereka ini juga harus dilibatkan,” katanya.
Rizal mengatakan, selama ini kegiatan penelitian lebih banyak dilakukan di tingkat perguruan tinggi. Karena itu, pelajar juga perlu mulai diberikan ruang untuk mengenal dan terlibat dalam kegiatan penelitian sejak bangku sekolah.
Di sisi lain, Rizal juga menyoroti sejumlah fasilitas SMPN 6 yang masih membutuhkan perbaikan. Di antaranya rumah guru dan aula sekolah. Sementara untuk ruang kelas, ia menyebut kondisinya masih baik.
Pengembangan SMPN 6 sebagai sekolah percontohan pengelolaan sampah, diharapkan tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk kebiasaan baru bagi siswa dan lingkungan keluarga mereka.




