Dinkes Ternate Evaluasi Program Penanggulangan Kusta, Perkuat Komitmen Puskesmas
Ternatehariini – Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya penanggulangan kusta. Salah satunya melalui Pertemuan Evaluasi Program Kusta Puskesmas se-Kota Ternate yang digelar untuk mengevaluasi capaian program, mengidentifikasi kendala, serta memperkuat komitmen tenaga kesehatan.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa 22-23 September 2026, di Grandmajang, Ternate, diikuti kepala puskesmas dan penanggung jawab program kusta puskesmas se-Kota Ternate, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, serta perwakilan Perhimpunan Maku Hida.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, Fathiyah Suma, mengatakan evaluasi program diperlukan untuk melihat capaian sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi dalam penanggulangan kusta di lapangan.
“Evaluasi ini penting untuk melihat apa yang sudah kita capai, apa yang masih menjadi kendala, dan apa yang harus kita perbaiki bersama. Komitmen seluruh jajaran puskesmas sangat dibutuhkan agar penanggulangan kusta dapat berjalan lebih optimal,” kata Fathiyah.
Ia mengatakan, Kota Ternate masih menghadapi persoalan kusta dengan temuan kasus yang relatif tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Ternate, sepanjang 2025 tercatat 131 kasus baru kusta. Dari jumlah tersebut, 11 kasus merupakan kasus pada anak dan tujuh kasus mengalami disabilitas tingkat 2.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat 64 kasus baru kusta. Sebanyak tujuh kasus di antaranya merupakan kasus anak dan dua kasus mengalami disabilitas tingkat 2.
Menurut Fathiyah, berbagai intervensi telah dilakukan Pemerintah Kota Ternate bersama mitra, termasuk NLR Indonesia. Upaya tersebut meliputi pelatihan petugas kusta, bimbingan teknis secara berkelompok maupun perorangan, pengobatan menggunakan multidrug therapy (MDT) di puskesmas, pemantauan pascapengobatan, serta pemberian obat pencegahan kusta atau kemoprofilaksis dengan metode blanket.
“Upaya penanggulangan sudah dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari peningkatan kapasitas petugas, pengobatan, pemantauan pasien, sampai pemberian kemoprofilaksis. Tetapi kita masih menemukan kasus baru. Karena itu, program yang sudah berjalan perlu terus dievaluasi dan diperkuat,” ujarnya.
Fathiyah menilai penanggulangan kusta tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga membutuhkan penguatan penemuan kasus secara dini dan keterlibatan tenaga kesehatan hingga tingkat desa.
“Penemuan kasus secara dini sangat penting. Kita ingin kasus ditemukan dan ditangani sedini mungkin sehingga risiko terjadinya disabilitas dapat dicegah. Karena itu, peran kepala puskesmas, petugas kusta, dokter praktik mandiri, maupun bidan desa perlu terus diperkuat,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Ternate bersama mitra juga mengembangkan sejumlah pendekatan inovatif, di antaranya Urban Leprosy dan Bina Desa Sahabat Kusta yang telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir.
Fathiyah mengatakan program-program tersebut perlu terus dievaluasi untuk memastikan pelaksanaannya mampu menjawab persoalan kusta di masyarakat.
“Kita ingin melihat program yang sudah berjalan ini benar-benar memberikan manfaat. Apa yang menjadi pembelajaran di lapangan harus menjadi bahan untuk memperbaiki program ke depan,” katanya.
Kegiatan tersebut juga diarahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tenaga kesehatan mengenai tata laksana kasus serta program kusta, termasuk bagi dokter praktik mandiri (DPM).
Selain itu, peran bidan desa menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan, khususnya untuk memperkuat pelaksanaan Bina Desa Sahabat Kusta di tingkat masyarakat.
Pertemuan tersebut dibuka Fathiyah Suma dan turut diisi arahan Senior Konsultan Technical Advisor sekaligus Program Manager NLR Indonesia, dr. Teky Budiawan, MPH.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan itu, yakni dr. Maryam S. Duggio, SpDev, Ketua IDI Cabang Kota Ternate, Kasubag Perencanaan Dinas Kesehatan Kota Ternate, serta Ketua Perhimpunan Maku Hida Kota Ternate.




