Sosok Pemuda Kelahiran Subaim di Balik Logo HUT Haltim ke-23
Ternatehariini – Hujan turun perlahan sore itu di Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim). Di teras Kantor Stasiun Relay RRI Maba, beberapa jurnalis tampak duduk santai sambil menyeruput kopi dan menulis berita, menunggu hujan reda sebelum kembali beraktivitas.
Di salah satu sudut ruangan, Iksan Kakiyet duduk tenang sambil menikmati secangkir kopi. Pria yang akrab disapa Papua atau Paps itu baru saja menyelesaikan desain logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Haltim tahun 2026.
Percakapan sore itu awalnya sederhana, tentang hujan, aktivitas liputan, hingga persiapan HUT Haltim yang mulai terasa di berbagai sudut Kota Maba. Namun, obrolan kemudian mengarah pada logo yang baru saja ia rampungkan.
Sesekali, Paps menunjuk gambar logo di layar telepon genggamnya. Sorot matanya terlihat serius saat menjelaskan makna setiap warna dan simbol dalam desain tersebut.
“Logo ini bukan hanya gambar biasa. Saya ingin ada cerita Haltim di dalamnya,” ujarnya.
Paps merupakan jurnalis kelahiran Subaim, 9 April 1988. Di balik profesinya sebagai pewarta, ia ternyata memiliki ketertarikan besar terhadap dunia desain grafis. Kemampuan itu dipelajarinya secara otodidak sejak lama.
Baginya, mendesain logo HUT daerah bukan sekadar memenuhi kebutuhan visual sebuah perayaan. Ia ingin logo tersebut menjadi simbol perjalanan Haltim yang terus tumbuh sejak dimekarkan pada 2003 silam.
Karena itu, ia memilih sejumlah warna utama yang dianggap memiliki makna kuat tentang Halmahera Timur.
Warna hijau, misalnya, melambangkan kesuburan. Menurutnya, warna itu menggambarkan tanah Haltim yang kaya dan memiliki potensi besar di sektor pertanian maupun perkebunan.
Sementara warna merah dipilih sebagai simbol keberanian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Merah itu tentang keberanian masyarakat dan pemerintah menghadapi tantangan,” katanya.
Selain itu, warna kuning dimaknai sebagai simbol kemakmuran. Ia berharap Haltim terus berkembang menjadi daerah yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Adapun warna hitam digunakan sebagai simbol ketegasan dan keberanian dalam menentukan arah pembangunan daerah. Warna tersebut juga digunakan pada tulisan tema HUT Haltim ke-23, yakni “Harmoni untuk Pembangunan Berkelanjutan.”
Menurut Paps, tema tersebut menggambarkan semangat Haltim dalam menjaga kebersamaan demi mendorong pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor.
Tak hanya warna, logo itu juga memuat simbol padi yang menjadi penanda Halmahera Timur sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Maluku Utara.
Di bagian lain terdapat simbol Coka Iba, identitas budaya yang lekat dengan kehidupan masyarakat Haltim.
“Coka Iba itu bagian dari falsafah hidup orang Haltim. Di situ ada nilai fagogoru ngaku re rasai, budi re bahasa, mtait re miymoi,” jelasnya.
Bagi Paps, simbol budaya tersebut penting dimasukkan agar logo tidak kehilangan identitas lokal. Sebab, Haltim bukan hanya tentang pembangunan, tetapi juga tentang adat, kebersamaan, dan nilai hidup masyarakatnya.
Sementara angka 23 dibuat menonjol sebagai penanda usia Kabupaten Haltim yang kini memasuki tahun ke-23 sejak resmi dimekarkan pada 2003 lalu.
Di tengah suara hujan yang masih terdengar di atap seng kantor relay, Paps terus bercerita tentang proses kreatif yang dilaluinya. Ia mengaku beberapa kali mengganti konsep sebelum akhirnya menemukan desain yang dianggap paling sesuai.
Tidak ada ruangan khusus atau meja kerja mewah. Ide-ide itu lahir di sela aktivitas liputan, malam yang panjang, hingga obrolan sederhana tentang Haltim yang terus berkembang.
“Saya hanya ingin karya ini punya arti bagi daerah,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Bagi Paps, menjadi bagian dari perayaan HUT Haltim ke-23 melalui sebuah logo merupakan kebanggaan tersendiri. Apalagi, karya tersebut kini hadir di baliho, spanduk, dan berbagai media publikasi resmi pemerintah daerah.
Hujan akhirnya mulai reda. Langit Maba perlahan kembali terang. Paps menutup percakapan sore itu dengan kalimat sederhana, seperti caranya memulai cerita.
“Semoga logo ini bisa menjadi semangat untuk Haltim yang lebih baik,” katanya.
Sore itu, di Kantor Stasiun Relay RRI Maba, sebuah logo ternyata bukan sekadar desain. Ia menjadi cerita tentang kecintaan seorang anak daerah terhadap tanah kelahirannya sendiri.




