Perwali Belum Rampung, Program Kelurahan Percontohan Pengelolaan Sampah di Ternate Tertunda
Ternatehariini – Rencana Pemerintah Kota Ternate menerapkan pengelolaan sampah berbasis partisipatif di lima kelurahan masih tertahan di meja administrasi. Hingga awal Juni 2026, program yang digadang-gadang menjadi model baru penanganan sampah itu belum dapat dijalankan karena Peraturan Wali Kota (Perwali) sebagai payung hukumnya masih dalam proses harmonisasi.
Padahal, program tersebut disiapkan sebagai langkah awal mengubah pola pengelolaan sampah di Ternate yang selama ini masih mengandalkan sistem pungut, angkut, dan buang. Pemerintah berharap keterlibatan langsung masyarakat dapat menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Musli Mohamad, mengatakan seluruh draf Perwali telah diserahkan ke Bagian Hukum Pemkot Ternate untuk selanjutnya menjalani proses harmonisasi di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM.
“Semua drafnya sudah kami serahkan ke Bagian Hukum dan sementara dilakukan harmonisasi. Karena memang aturannya begitu, harus diharmonisasi terlebih dahulu di Kanwil Kemenkumham,” kata Musli.
Menurutnya, penyelesaian regulasi menjadi syarat utama sebelum program diterapkan di lapangan. Karena itu, pemerintah belum bisa memastikan kapan program tersebut mulai berjalan meski sebelumnya ditargetkan terlaksana pada Juni 2026.
Program ini akan diterapkan lebih dulu di lima kelurahan, yakni Stadion, Mangga Dua Utara, Jambula, Tubo, dan Sulamadaha. Kelima wilayah tersebut dipilih sebagai percontohan sebelum diperluas ke kelurahan lain di Kota Ternate.
Dalam konsep yang disiapkan, warga akan didorong memilah sampah sejak dari rumah berdasarkan jenisnya, mulai dari sampah organik, anorganik hingga residu. Selain itu, sistem pembayaran iuran kebersihan juga akan dilakukan melalui ketua RT untuk memperkuat pengawasan dan pelayanan pengelolaan sampah.
Musli menjelaskan, pendekatan tersebut dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah semata.
“Nanti secara perlahan akan berkembang ke kelurahan lain sambil kita evaluasi progresnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan pola pengelolaan sampah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda mengingat volume sampah perkotaan terus meningkat setiap tahun.
“Selama ini yang kita lihat, pola yang dipakai masih pungut, angkut, buang. Jadi ini coba diubah dengan konsep yang berbeda,” pungkasnya. (Red)





