Persiter sebagai Simbol Harga Diri
Oleh: Alfajri A. Rahman
Bendahara KONI Kota Ternate
Nyanyian dan teriakan dari tribun Stadion Gelora Kie Raha (GKR) Ternate akan kembali menjadi saksi sejarah. Sepak bola Maluku Utara kembali bergairah dengan hadirnya Persiter Ternate di kompetisi nasional. Di tengah meredupnya euforia Malut United setelah berpindah markas ke Jawa Tengah, Persiter hadir membawa harapan baru bagi masyarakat pecinta sepak bola di daerah ini.
Kembalinya Persiter menjadi angin segar setelah sekian lama vakum sejak musim 2007–2008 dari kompetisi sepak bola nasional. Kebangkitan ini bukan hanya tentang sebuah klub yang kembali berlaga, melainkan juga tentang bangkitnya kebanggaan masyarakat Maluku Utara terhadap sepak bola.
Ternate dikenal sebagai gudangnya talenta sepak bola. Banyak pemain hebat lahir dari daerah ini dan pernah memperkuat tim nasional maupun klub-klub besar Indonesia. Nama-nama seperti Rahmat Rivai, Fhandi Mochtar, Zulham Zamrun, Ahmad Sambiring, Firdaus Nyong, Qwetly Alweni, Safrudin Rasid, dan sederet legenda lainnya menjadi bukti bahwa Persiter pernah menjadi kawah candradimuka lahirnya pemain-pemain berkualitas.
Kesadaran bahwa sepak bola merupakan denyut nadi sekaligus hiburan masyarakat Maluku Utara melahirkan banyak Sekolah Sepak Bola (SSB). Kehadiran Persiter di kasta nasional kembali membangkitkan semangat para legenda yang pernah berjaya pada masanya. Kini, banyak di antara mereka telah mengantongi lisensi kepelatihan dan siap berkontribusi membina generasi muda, sebagai stok pemain Persiter di masa depan. Momentum ini menjadi kesempatan, untuk kembali mencari bibit-bibit terbaik yang kelak mengharumkan nama Ternate dan Maluku Utara.
Namun, optimisme tersebut tentu diiringi tantangan besar. Mengelola klub sepak bola membutuhkan dukungan finansial yang kuat, sementara regulasi melarang penggunaan APBD untuk membiayai operasional klub profesional. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, persoalan pendanaan menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama Ketua Umum Persiter yang juga menjabat sebagai Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman.
Persiter bukan sekadar klub sepak bola. Klub berjuluk Laskar Kie Raha ini merupakan bagian dari sejarah panjang masyarakat Ternate. Dengan basis suporter yang militan dan rekam jejak yang membanggakan di kancah sepak bola nasional, Persiter pernah menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Divisi Utama Liga Indonesia pada era 2000-an.
Mantan pemain Persiter, Safrudin Rasid, pernah mengungkapkan bahwa “Persiter bukan sekadar sepak bola, melainkan simbol harga diri dan pemersatu masyarakat Ternate.” Pernyataan tersebut menggambarkan betapa kuatnya ikatan emosional antara Persiter dan masyarakat Maluku Utara. Persiter bukan hanya sebuah tim, tetapi juga simbol identitas, persatuan, dan kebanggaan warga.
Selama lebih dari enam dekade, Persiter menjadi rumah pertama bagi lahirnya talenta-talenta muda Maluku Utara. Klub ini telah membuktikan kemampuannya mencetak pemain yang mampu bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tidak berlebihan jika Persiter disebut sebagai salah satu “pabrik pemain” dari kawasan timur Indonesia.
Stadion Gelora Kie Raha bukan sekadar bangunan yang terdiri atas beton dan hamparan rumput hijau. Stadion ini adalah tempat anak-anak muda mengasah kemampuan mengolah si kulit bundar. Di sinilah ribuan suporter memenuhi tribun, menyanyikan lagu-lagu kebanggaan, memberikan semangat tanpa henti, dan menanti kemenangan Laskar Kie Raha. GKR menjadi ruang yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Perbedaan melebur dalam satu bahasa universal: sepak bola.
Kini Persiter kembali hadir membawa harapan. Meski harus memulai perjuangan dari Liga 4, langkah itu menjadi bukti bahwa Persiter masih hidup dan siap meramaikan dinamika sepak bola Indonesia. Jalan menuju kasta tertinggi memang panjang, tetapi mimpi itu akan tercapai apabila seluruh elemen masyarakat bersatu mendukung perjuangan klub kebanggaan ini.
Persiter bukan milik segelintir orang atau kelompok tertentu. Persiter adalah milik seluruh masyarakat Maluku Utara. Kehadirannya bukan untuk kepentingan politik, melainkan sebagai simbol kebangkitan sepak bola di kawasan timur Indonesia.
Jangan sampai nama besar Persiter hanya menjadi cerita yang dikenang oleh anak cucu tanpa ada upaya mengembalikan kejayaannya. Momentum kebangkitan ini harus dimanfaatkan untuk memperbaiki sejarah dan mengembalikan marwah klub yang pernah mengharumkan nama Maluku Utara. Gemuruh Stadion Gelora Kie Raha, nyanyian para suporter, hingga semangat yang membakar di setiap pertandingan diharapkan kembali menjadi bagian dari cerita besar Persiter.
Persiter juga dapat belajar dari klub-klub besar yang mampu bertahan dan berkembang secara profesional, seperti Persib Bandung. Besarnya nama Persib tidak lahir dalam semalam, tetapi dibangun melalui tata kelola yang profesional, manajemen yang sehat, serta komitmen untuk menjauhkan klub dari kepentingan politik sesaat.
Karena itu, kebangkitan Persiter harus dibarengi dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Sepak bola modern bukan hanya soal prestasi, tetapi juga menyangkut tata kelola organisasi, pembinaan usia muda, serta kemandirian finansial.
Semoga kebangkitan Persiter menjadi daya dobrak baru bagi sepak bola Maluku Utara. Semoga nyanyian di tribun Gelora Kie Raha kembali menggema, menghidupkan semangat masyarakat, dan mengantarkan Laskar Kie Raha menuju kejayaan yang pernah mereka miliki.




