Transaksi Saham di Malut Melonjak 223,88 Persen
Ternatehariini – Nilai transaksi saham di Maluku Utara melonjak 223,88 persen secara tahunan hingga Juni 2026. Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah investor pasar modal di daerah yang mencapai 73.947 Single Investor Identification (SID).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Utara Adi Surahmat mengatakan, jumlah investor pasar modal di Maluku Utara hingga Juni 2026 tumbuh 97,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jumlah SID meningkat 97,08 persen secara tahunan menjadi 73.947 investor per Juni 2026,” ujar Adi saat membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) Pasar Modal Syariah di Ternate, Rabu 2 September 2026.
Menurutnya, peningkatan jumlah investor tersebut turut mendorong aktivitas perdagangan saham di Maluku Utara. Nilai transaksi saham tercatat tumbuh 223,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pasar modal tersebut terjadi di tengah kinerja ekonomi Maluku Utara yang juga mencatat pertumbuhan tinggi. Ekonomi daerah itu tumbuh 13,73 persen pada 2024 dan 34,17 persen pada 2025. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat 19,64 persen pada triwulan I dan 15,35 persen pada triwulan II secara tahunan.
Meski aktivitas pasar modal terus meningkat, Adi mengingatkan bahwa pertumbuhan jumlah investor perlu diiringi dengan pemahaman dan literasi keuangan yang memadai.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan Maluku Utara tercatat 48,65 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 77,18 persen. Keduanya masih berada di bawah capaian nasional.
Kondisi tersebut juga terlihat pada sektor keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah Maluku Utara tercatat 28,81 persen, sementara indeks inklusinya mencapai 10,94 persen.
“Pertumbuhan investor harus diikuti dengan pemahaman yang baik agar masyarakat tidak hanya menjadi investor, tetapi juga mampu mengambil keputusan investasi secara bijak,” kata Adi.
Karena itu, OJK mendorong penguatan edukasi pasar modal, termasuk pasar modal syariah, melalui pelibatan akademisi, guru, dan tokoh agama sebagai agen literasi.
ToT Pasar Modal Syariah yang digelar di Ternate menjadi salah satu upaya OJK memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi berbasis syariah. Para peserta diharapkan dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada mahasiswa, siswa, jamaah, dan masyarakat luas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai perkembangan produk pasar modal syariah, prinsip syariah dalam transaksi, mekanisme perdagangan saham syariah dan sukuk, hingga reksa dana syariah.
Materi disampaikan oleh Andry Wicaksono dari OJK, K.H. Mahbub Ma’afi Ramdlan dari Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Irwan Abdalloh dari Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Mauldy R. Makmur dari Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI).
Adi menegaskan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, OJK, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, industri jasa keuangan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Investasi syariah bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga kebermanfaatan, keberlanjutan, dan keberkahan,” ujarnya.




